a. Makassar
Pada tanggal 19 Agustus 1945, rombongan Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangi, mendarat di Sapiria, Bulukumba. Setelah sampai di Makassar, Gubernur Dr. Sam Ratulangi segera membentuk pemerintah- an daerah. Mr. Andi Zainal Abidin diangkat sebagai Sekretaris Daerah. Tindakan gubernur oleh para pemuda dianggap terlalu berhati-hati, se- hingga para pemuda bergerak dan merencanakan merebut gedung-ge- dung vital, seperti studio radio dan markas polisi. Kelompok pemuda tersebut terdiri dari kelompok Barisan Berani Mati (Boci Taishin), bekas kaigun heibe dan pelajar SMP. Pada tanggal 28 Oktober 1945 mereka melakukan aksinya. Akibat peristiwa tersebut, pasukan Australia yang te lah ada melucuti mereka. Sejak peristiwa tersebut gerakan pemuda dipindahkan dari Makassar ke Polombangkeng
b. Bali
Para pemuda Bali telah membentuk berbagai organisasi pemuda, se- perti AMI, Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada akhir Agustus 1945. Mereka berusaha untuk menegakkan Republik Indonesia melalui perundingan tetapi mendapat hambatan dari pasukan Jepang. Pada tanggal 13 Desember 1945 mereka melakukan gerakan serentak untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang, meskipun gerakan ini gagal.
c. Surabaya
Kedatangan NICA dan dipersenjatainya KNIL telah menimbulkan bentrokan bersenjata dan permusuhan antara orang Belanda dan parı pemuda pejuang. Misalnya, pada tanggal 19 September 1945 terjadi In siden Bendera di Surabaya. Peristiwa ini bermula dari sikap orang-orang Belanda yang mengibarkan bendera Merah Putih Biru (bendera Belanda) di atas Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya.
Peristiwa itu menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya. Selanjutnya rakyat Surabaya menyerbu Hotel Yamato. Beberapa pemuda Indonesia dengan gagah berani naik di atas hotel untuk menyobek warna biru pada bendera Belanda sehingga tinggal warna merah dan putih. Dengan de mikian, bendera ini menjadi warna bendera Indonesia. Hal itu berani rakyat tidak suka terhadap sikap tentara Sekutu dan NICA di Indonesia
d. Yogyakarta
Perebutan kekuasaan dari tangan Jepang di Yogyakarta sudah dimu lai sejak tanggal 26 September 1945. Sejak pukul 10.00 semua pegawai instansi pemerintah dan perusahaan yang dikuasai Jepang melaksanakan aksi mogok. Mereka memaksa agar orang-orang Jepang menyerahkan aset dan kantornya kepada orang Indonesia.
Tanggal 27 September 1945 Komite Nasional Indonesia Daerah Yog yakarta mengumumkan bahwa kekuasaan di daerah tersebut telah berada di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada hari itu juga di Yogya karta diterbitkan surat kabar Kedaulatan Rakyat. Pada tanggal 7 Oktober 1945 para pemuda, BKR, dan polisi istimewa menyerang tangsi Jepang. Dalam pertempuran tersebut gugur beberapa pemuda, seperti Faridan M. Noto. A.M. Sangaji, Abu Bakar Ali, dan Suroto.
e. Solo
Para pemuda melakukan pengepungan markas Kempetai Jepang Dalam pengepungan itu, seorang pemuda bernama Arifin gugur. Nama Arifin kemudian diabadikan menjadi nama sebuah jembatan yang meng- hubungkan Widuran dan Kebalen di atas Sungai Pepe.
f. Palembang
Dukungan dan perebutan kekuasaan terjadi di Sumatra Selatan pada tanggal 8 Oktober 1945, ketika Residen Sumatra Selatan dr. A.K. Gani bersama seluruh pegawai Gunseibu dalam suatu upacara menaikkan ben- dera Merah Putih. Setelah upacara selesai, para pegawai kembali ke kantornya masing-masing. Pada hari itu juga diumumkan bahwa di seluruh Karesidenan Palembang hanya ada satu kekuasaan yakni kekuasaan Republik Indonesia. Perebutan kekuasaan di Palembang berlangsung tanpa insiden, sebab orang-orang Jepang telah menghindar ketika terjadi demonstrasi.
g. Bandung
Pertempuran diawali dengan usaha para pemuda untuk merebut pangkalan Udara Andir dan pabrik senjata bekas ACW (Artillerie Constructie Winkel, sekarang Pindad). Usaha tersebut berlangsung sampai datangnya pasukan Sekutu di Bandung tanggal 17 Oktober 1945,
h. Kalimantan
Beberapa kota di Kalimantan mulai timbul gerakan yang mendukung proklamasi. Akibatnya tentara Australia yang sudah mendarat atas nama Sekutu mengeluarkan ultimatum melarang sernua aktivitas politik, seperti demonstrasi dan mengibarkan bendera Merah Putih, memakai lencana Merah Putih dan mengadakan rapat. Namun kaum nasionalis tidak menghiraukannya. Di Balikpapan tanggal 14 November 1945, tidak kurang 8.000 orang berkumpul di depan komplek ICA sambil membawa bendera Merah Putih.
i. Manado
Usaha menegakkan kedaulatan di Sulawesi Utara tidak padam. meskipun tentara NICA telah menguasai wilayah tersebut. Pada tanggal 14 Februari 1946, para pemuda Indonesia anggota KNIL tergabung da lam Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) mengadakan gerakan di Tangsi P tih dan Tangsi Hitam di Teling, Manado. Mereka membebaskan tawanan yang mendukung Republik Indonesia antara lain Taulu, Wuisan, Suman ti, G.A. Maengkom, Kusno Dhanupojo, dan G.E. Duhan.
Di sisi lain mereka juga menahan Komandan Garnisun Manado das semua pasukan Belanda di Teling dan penjara Manado. Dengan diawali peristiwa tersebut para pemuda menguasai markas Belanda di Tomohon dan Tondano. Berita tentang perebutan kekuasaan tersebut dikirim ke pe merintah pusat yang saat itu di Yogyakarta dan mengeluarkan Maklumat No. I yang ditandatangani oleh Ch.Ch. Taulu. Pemerintah sipil dibennuk tanggal 16 Februari 1946 dan sebagai residen dipilih B.W. Lapian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar