Jumat, 17 Mei 2024

PERAN BUNG KARNO DAN BUNG HATTA SEBAGAI PROKLAMATOR SERTA TOKOH TOKOH PROKLAMASI LAINNYA

DEWI CAHYANTI, S.Pd

SEJARAH INDONESIA

KELAS XI IPA 4, XI IPA 5

KOMPETENSI DASAR 

3.9 Menganalisis peran dan nilai-nilai perjuangan Bung Karno dan Bung Hatta sebagai proklamator serta tokoh-tokoh lainnya sekirat proklamasi

TUJUAN PEMBELAJARAN

Peseta didik diharapkan daat mendeskripsikan peran Bung Karno dan Bung Hatta sebagai proklamator dan tokoh lainnya.


A. Peran Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Proklamator

Dalam upaya memperjuangkan sebuah kemerdekaan suatu negara, tidak pernah lepas dari peran para tokoh penting didalamnya. Di Indonesia sendiri, kemerdekaan yang ditandai dengan digaungkannya Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus tahun 1945 diwujudkan oleh para tokoh perjuangan yang dikenal sebagai tokoh proklamator atau sang proklamator. Merunut pada sejarahnya, sang proklamator dalam proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakoni oleh 2 tokoh penting, yaitu Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Bahkan kedua tokoh yang sangat berjasa tersebut dikenal sebagai founding fathers negara Indonesia.

Ir. Soekarno 



Soekarno atau yang dikenal dengan sebutan Bung Karno merupakan pria kelahiran 6 Juni 1901. Sejak masih bersekolah, Soekarno sudah aktif sebagai penggerak mahasiswa, untuk kemudian pada tahun 1927 bersama kawan-kawannya mendirikan sebuah partai politik yang disebut dengan Partai Nasional Indonesia (PNI). (Baca juga: Mengenal Sayuti Melik, Tokoh Dibalik Ketikan Teks Proklamasi) Pada masa penjajahan Jepang, Soekarno diberi kepercayaan untuk memimpin organisai Putera, Chuo Sangiin, dan PPKI. Dalam perjuangannya melawan penjajah, tidak jarang Soekarno keluar masuk penjara. Salah satu peran penting  Soekarno yang sangat berharga adalah merumuskan teks proklamasi bersama dengan Moh. Hatta dan Ahmad Subarjo. Rumusan tersebut pada akhirnya diumumkan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, secara tidak langsung menginformasikan bahwa Indonesia sudah menjadi negara yang merdeka. Maka dari itu, Soekarno sampai saat ini dikenal sebagai Bapak Proklamator Indonesia. 

Drs. Moh. Hatta 



Moh. Hatta lahir di Bukit Tinggi pada 12 Agustus 1902. Sejak menjadi mahasiswa di luar negeri, ia sudah aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau menjadi salah seorang pemimpin dan Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda. Saat kembali ke tanah air, ia aktif di dalam kegiatan politik PNI bersama Soekarno. Setelah PNI dibubarkan, Hatta aktif kembali di PNI baru, bahkan pada masa pendudukan Jepang ia menjadi salah seorang pemimpin Putera, menjadi anggota BPUPKI, dan wakil ketua PPKI. Ketika menjadi wakil PPKI, Moh Hatta dan Soekarno menjadi dwi tunggal yang sulit dipisahkan. Perannya sendiri dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan melibatkan diri secara langsung dan ikut andil dalam perumusan teks proklamasi serta ikut menandatangani teks proklamasi. Pada peristiwa detik-detik proklamasi, Moh Hatta tampil sebagai tokoh nomor dua dan mendampingi Soekarno dalam pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

untuk mengetahui informasi terkait tokoh-tokoh lainnya, silahkan akses link di bawah ini

https://www.canva.com/design/DAF8xuohRg8/NL-3VoGac6VnAAo3s1_Mmg/view?utm_content=DAF8xuohRg8&utm_campaign=designshare&utm_medium=link&utm_source=editor

https://www.canva.com/design/DAF8xEdwwgU/YxJSirtTjT4SzPa5D6aZbA/view?utm_content=DAF8xEdwwgU&utm_campaign=share_your_design&utm_medium=link&utm_source=shareyourdesignpanel

https://www.canva.com/design/DAF8xVJzLco/VqE2Afmki30PL2Pa2CBMrA/edit?utm_content=DAF8xVJzLco&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Selasa, 14 Mei 2024

PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS 1945 (PEMINATAN)

DEWI CAHYANTI, S.Pd

SEJARAH PEMINATAN
KELAS XI IPS 1, XI IPS 2
14, 16 MEI 2024

KOMPETENSI DASAR
3.12 Menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia.
4.12 Menalar peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:

1. Menganalisis peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945.

2. Mengevaluasi berbagai bentuk sambutan masyarakat terhadap proklamasi.

3. Merumuskan nilai-nilai kejuangan yang terkandung dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia.

4. Menalar peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia

5. Menyajikan hasil penalaran dalam bentuk cerita sejarah

A. Peristiwa Penting Sekitar Proklamasi

1. Peristiwa Rengasdengklok


Peristiwa Rengasdengklok diawali dari penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta (golongan tua) serta Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra yang saat itu berusia 9 bulan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda. Beberapa pemuda yang terlibat dalam penculikan ini antara lain Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh (golongan muda). Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Rumah Jiauw Ki Siong seorang Tionghoa menjadi tempat bagi para pemuda untuk meyakinkan gologan tua agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dikumandangkan, dengan ini bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah pemberian Jepang. Ahmad Soebardjo (golongan tua) dan Wikana (golongan muda) yang berada di Jakarta telah sepakat bahwa Proklamasi akan segera dilaksanakan di Jakarta. Selain itu, Laksamana Muda Meda bersedia rumahnya dijadikan tempat perumusan teks Proklamasi. Ahmad Soebardjo, Sudiro, dan Jusuf Kunto berangkat ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur.


2. Perumusan Teks Proklamasi



Perumusan teks proklamasi dilakukan di kediaman Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta. Perumusan teks tersebut juga disaksikan oleh Miyoshi, Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah. Dalam teks tersebut memuat kalimat pernyataan yang tegas dan mencerminkan harapan bangsa Indonesia, untuk menjadi negara merdeka dan bebas menentukan nasibnya sendiri. Dalam penyusunannya, isi teks proklamasi pada kalimat pertama “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia” adalah usulan Ahmad Soebardjo, yang sebelumnya berbunyi “Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami”. Selanjutnya, pada isi teks proklamasi di kalimat kedua juga mengalami perubahan. Awalnya kalimat kedua berbunyi “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara secermat-cermatnya, serta dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”. Kalimat "secermat-cermatnya serta dalam tempoh" diubah menjadi "seksama dan dalam tempoh", atas usulan Moh. Hatta. Pada prosesi penandatanganan naskah Soekarno mengusulkan agar seluruh peserta rapat menandatangani naskah Proklamasi selaku wakil bangsa Indonesia. Usulan tersebut ditentang golongan pemuda, Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani naskah tersebut adalah Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, usulan Sukarni disetujui oleh para hadirin. Setelah melalui proses penyusunan oleh para tokoh, akhirnya teks tersebut diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik setelah Soekarno melakukan beberapa perubahan yaitu kata “tempoh” menjadi “tempo”, tulisan “wakil-wakil bangsa Indonesia” diubah menjadi “atas nama bangsa Indonesia”, tulisan “Djakarta 17-8-05” diubah menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahun ‘05”.

3 Proklamasi Kemerdekaan RI

 

Pada mulanya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia akan dibacakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di  Lapangan IKADA (yang sekarang telah menjadi Lapangan Monas) namun Rumah Bung Karno akhirnya dipilih untuk menghindari kericuhan antara penduduk dan tentara Jepang, yang berlokasi di Jl. Pegangsaan Timur No. 56. 


Pada hari Jumat pagi tanggal 17 Agustus 1945, halaman rumah Ir. Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta sudah dipenuhi rakyat dan para tokoh yang ingin menyaksikan upacara pembacaan nas- kah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para pemimpin bangsa Indone- sia yang sudah hadir adalah dr. Buntaran Martoatmojo, Mr. A. A. Maramis, Mr. Latuharhary, Abikusno Cokrosuyoso, Anwar Cokroaminoto, Harsono Cokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantara, Sam Ratulangi, K. H. Mas Mansur, Sayuti Melik, dr. Muwardi, Suwirjo, dan A. G. Pringgodigdo. Pada pukul 09.55 WIB Drs. Moh. Hatta datang dan akhirnya tepat pada pukul 10.00 WIB acara pembacaan naskah prokla- masi dimulai. Selanjutnya, Ir. Sukarno tampil ke depan mikrofon mem- bacakan naskah proklamasi pada pukul 10.00 WIB.


Sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan, pukul 10.00 WIB Ir. Sukarno menyampaikan pidatonya, yang berbunyi:


Saudara-saudara sekalian!

Saya sudah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menjaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita.

Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk ke- merdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombang- nya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naik dan ada turun, tetapi jiwa kita tetap menudju ke arah cita-cita.

Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak henti-henti. Di dalam zaman Jepang ini, tampaknja saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakikatnja, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan kita sendiri

Sekarang tibalah saatnja kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanja bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami, tadi malam telah mengadakan musjawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh rakyat Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami nyatakan kebulatan tekad itu. Dengarlah proklamasi kami.


PROKLAMASI


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.


Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.LL, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.


Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05 

Atas nama bangsa Indonesia,

Soekarno/Hatta


Demikianlah, saudara-saudara!

Kita sekarang telah merdeka!

Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita bangsa kita!

Mulai saat ini kita menjusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia, merdeka, kekal abadi.

Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!



B. Sambutan Rakyat Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


1. Penyebaran Berita Proklamasi



Pada 17 Agustus 1945 teks proklamasi telah diterima oleh Kepala Bagian Radio Domei (kantor berita Jepang). Waidan B. Panelewa memerintahkan F. Wuz untuk menyiarkan berita prorklamasi tiga kali berturut-turut, namun setalah dua kali disiarkan, seorang Jepang masuk ke ruang radio dan memerintahkan agar berita proklamasi dihentikan. Waidan B. Panelewa tetap memerintahkan F. Wuz agar berita proklamasi terus disiarkan setiap setengah jam sekali sampai pukul 16.00 WIB. Pada 20 Agustus Pemancar Radio Domei disegel oleh Jepang. Para pemuda membuat pemancar baru dengan bantuan beberapa teknisi radio, alat pemancar yang diambil dari kantor berita Domei sebagian dibawa kerumah Waidan B. Panelewa dan sebagian dibawa ke Jalan Menteng 31. Di Jalan Menteng 31 para pemuda merakit pemancar baru dengan kode DIK I un- tuk menyiarkan berita proklamasi ke seluruh Indonesia. Usaha para pemuda untuk menyebarluaskan berita proklamasi tidak terbatas lewat radio, melainkan juga dalam surat kabar se- hingga hampir seluruh surat kabar di Jawa dalam penerbitan- nya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya adalah koran pertama yang menyiarkan berita proklamasi.

2. Dukungan Rakyat terhadap Proklamasi Kemerdekaan di Lapangan Ikada


Rapat raksasa Ikada diselenggarakan pada tanggal 19 September 1945 dan dipelopori oleh Komite Van Actie (Komite Aksi Menteng 31). Komite inilah yang melakukan pengerahan massa ke Lapangan Ikada dengan tujuan sebagai berikut.

a. Agar para pemimpin RI dapat berbicara di hadapan rakyat.
b. Agar semangat kemerdekaan tetap menyala di hati rakyat.
c. Ingin menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya dengan tenaga sendiri, bukan atas bantuan Jepang.

Sebelumnya, pimpinan militer Jepang telah melarang rapat tersebut. Untuk menghalang-halangi rapat, pasukan Jepang yang bersenjata lengkap berjaga-jaga di sekitar Lapangan Ikada. Namun, kehadiran pasukan Jepang tidak mencegah rakyat untuk menghadiri rapat. Sekitar pukul 15.00 WIB, Sukarno memasuki lapangan didampingi sepasukan BKR dan para pemuka bangsa Indonesia dan berpidato.

Dalam pidato tersebut ia menegaskan bahwa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya dan bertekad mempertahankan kemerdekaan itu. Lalu, ia menutup pidatonya dengan ajakan kepada rakyat untuk setia kepada pemerintah dan pulang dengan tenang, namun tetap waspada. Akibat sikap antipati yang ditunjukkan Jepang di lapangan Ikada, berapa hari pemilihan para pejuang BKR dan pemuda menyerbu gudang senjata Jepang di Cilandak, Jakarta.

3. Tindakan Heroik di Berbagai Daerah


Tindakan heroik (kepahlawanan) tersebut terjadi serentak di berbagai daerah, antara lain di Semarang, Yogyakarta, Solo, Bandung, Surabaya. Aceh, Palembang, dan Makassar.

a. Makassar
Pada tanggal 19 Agustus 1945, rombongan Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangi, mendarat di Sapiria, Bulukumba. Setelah sampai di Makassar, Gubernur Dr. Sam Ratulangi segera membentuk pemerintah- an daerah. Mr. Andi Zainal Abidin diangkat sebagai Sekretaris Daerah. Tindakan gubernur oleh para pemuda dianggap terlalu berhati-hati, se- hingga para pemuda bergerak dan merencanakan merebut gedung-ge- dung vital, seperti studio radio dan markas polisi. Kelompok pemuda tersebut terdiri dari kelompok Barisan Berani Mati (Boci Taishin), bekas kaigun heibe dan pelajar SMP. Pada tanggal 28 Oktober 1945 mereka melakukan aksinya. Akibat peristiwa tersebut, pasukan Australia yang te lah ada melucuti mereka. Sejak peristiwa tersebut gerakan pemuda dipindahkan dari Makassar ke Polombangkeng

b. Bali
Para pemuda Bali telah membentuk berbagai organisasi pemuda, se- perti AMI, Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada akhir Agustus 1945. Mereka berusaha untuk menegakkan Republik Indonesia melalui perundingan tetapi mendapat hambatan dari pasukan Jepang. Pada tanggal 13 Desember 1945 mereka melakukan gerakan serentak untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang, meskipun gerakan ini gagal.

c. Surabaya
Kedatangan NICA dan dipersenjatainya KNIL telah menimbulkan bentrokan bersenjata dan permusuhan antara orang Belanda dan parı pemuda pejuang. Misalnya, pada tanggal 19 September 1945 terjadi In siden Bendera di Surabaya. Peristiwa ini bermula dari sikap orang-orang Belanda yang mengibarkan bendera Merah Putih Biru (bendera Belanda) di atas Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya.

Peristiwa itu menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya. Selanjutnya rakyat Surabaya menyerbu Hotel Yamato. Beberapa pemuda Indonesia dengan gagah berani naik di atas hotel untuk menyobek warna biru pada bendera Belanda sehingga tinggal warna merah dan putih. Dengan de mikian, bendera ini menjadi warna bendera Indonesia. Hal itu berani rakyat tidak suka terhadap sikap tentara Sekutu dan NICA di Indonesia

d. Yogyakarta
Perebutan kekuasaan dari tangan Jepang di Yogyakarta sudah dimu lai sejak tanggal 26 September 1945. Sejak pukul 10.00 semua pegawai instansi pemerintah dan perusahaan yang dikuasai Jepang melaksanakan aksi mogok. Mereka memaksa agar orang-orang Jepang menyerahkan aset dan kantornya kepada orang Indonesia.

Tanggal 27 September 1945 Komite Nasional Indonesia Daerah Yog yakarta mengumumkan bahwa kekuasaan di daerah tersebut telah berada di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada hari itu juga di Yogya karta diterbitkan surat kabar Kedaulatan Rakyat. Pada tanggal 7 Oktober 1945 para pemuda, BKR, dan polisi istimewa menyerang tangsi Jepang. Dalam pertempuran tersebut gugur beberapa pemuda, seperti Faridan M. Noto. A.M. Sangaji, Abu Bakar Ali, dan Suroto.

e. Solo
Para pemuda melakukan pengepungan markas Kempetai Jepang Dalam pengepungan itu, seorang pemuda bernama Arifin gugur. Nama Arifin kemudian diabadikan menjadi nama sebuah jembatan yang meng- hubungkan Widuran dan Kebalen di atas Sungai Pepe.

f. Palembang
Dukungan dan perebutan kekuasaan terjadi di Sumatra Selatan pada tanggal 8 Oktober 1945, ketika Residen Sumatra Selatan dr. A.K. Gani bersama seluruh pegawai Gunseibu dalam suatu upacara menaikkan ben- dera Merah Putih. Setelah upacara selesai, para pegawai kembali ke kantornya masing-masing. Pada hari itu juga diumumkan bahwa di seluruh Karesidenan Palembang hanya ada satu kekuasaan yakni kekuasaan Republik Indonesia. Perebutan kekuasaan di Palembang berlangsung tanpa insiden, sebab orang-orang Jepang telah menghindar ketika terjadi demonstrasi.

g. Bandung
Pertempuran diawali dengan usaha para pemuda untuk merebut pangkalan Udara Andir dan pabrik senjata bekas ACW (Artillerie Constructie Winkel, sekarang Pindad). Usaha tersebut berlangsung sampai datangnya pasukan Sekutu di Bandung tanggal 17 Oktober 1945,

h. Kalimantan
Beberapa kota di Kalimantan mulai timbul gerakan yang mendukung proklamasi. Akibatnya tentara Australia yang sudah mendarat atas nama Sekutu mengeluarkan ultimatum melarang sernua aktivitas politik, seperti demonstrasi dan mengibarkan bendera Merah Putih, memakai lencana Merah Putih dan mengadakan rapat. Namun kaum nasionalis tidak menghiraukannya. Di Balikpapan tanggal 14 November 1945, tidak kurang 8.000 orang berkumpul di depan komplek ICA sambil membawa bendera Merah Putih.

i. Manado
Usaha menegakkan kedaulatan di Sulawesi Utara tidak padam. meskipun tentara NICA telah menguasai wilayah tersebut. Pada tanggal 14 Februari 1946, para pemuda Indonesia anggota KNIL tergabung da lam Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) mengadakan gerakan di Tangsi P tih dan Tangsi Hitam di Teling, Manado. Mereka membebaskan tawanan yang mendukung Republik Indonesia antara lain Taulu, Wuisan, Suman ti, G.A. Maengkom, Kusno Dhanupojo, dan G.E. Duhan.

Di sisi lain mereka juga menahan Komandan Garnisun Manado das semua pasukan Belanda di Teling dan penjara Manado. Dengan diawali peristiwa tersebut para pemuda menguasai markas Belanda di Tomohon dan Tondano. Berita tentang perebutan kekuasaan tersebut dikirim ke pe merintah pusat yang saat itu di Yogyakarta dan mengeluarkan Maklumat No. I yang ditandatangani oleh Ch.Ch. Taulu. Pemerintah sipil dibennuk tanggal 16 Februari 1946 dan sebagai residen dipilih B.W. Lapian.

Latihan Soal 

1. Apa yang melatarbelakangi peristiwa Rengasdengklok?
2. Mengapa proklamasi kemerdekaan memiliki makna yang sangat penting bagi bangsa Indonesia?
3. Apa yang melatarbelakangi dipilhnya rumah Soekarno sebagai tempat pembacaan teks Proklamasi?
4. Jelaskan perjuangan Waidan B. Panelewa dalam menyairkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia!
5. Jelaskan tujuan dilaksanakannya rapat di lapangan IKada pada tanggal 19 September 1945!
 

XI IPC 1, XI IPS 1, XI IPS 2 KISI-KISI SUMATIF TENGAH SEMESTER

1 .  I dentitas Nama Guru : Dewi Cahyanti, S.Pd.  Mata Pelajaran : Sejarah Tingkat Lanjut Hari/Tanggal : Rabu, 02 April 2026 Kelas : X.F.C.1...