Kamis, 29 Februari 2024

PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA

DEWI CAHYANTI, S.Pd

SEJARAH PEMINATAN
KELAS XI IPS 2, XI IPS 1
29 FEBRUARI, 5 MARET 2024 

KOMPETENSI DASAR

3.11 Menganalisis kehidupan bangsa indonesia pada zaman pendudukan jepang

4.11 menyusun cerita sejarah tentang kehidupan bangsa indonesia di bidang sosial, ekonomi, budaya, militer, dan pendidikan pada zaman pendudukan jepang


Latar Belakang Kedatangan Jepang di Indonesia

Latar belakang pendudukan Jepang di Indonesia terkait dengan Perang Dunia II di mana Jepang mencari sumber daya untuk menunjang keperluan perang. Jepang yang berpaham fasisme ingin menguasai negara-negara di Asia dan Pasifik untuk mewujudkan cita-cita Imperium Asia Timur Raya. Perang Dunia II di Asia dimulai pada 8 Desember 1941 saat tentara Jepang mendadak menyerang Pearl Harbour di Hawaii, pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat terbesar di Pasifik. Serangan ini memicu perlawanan dari negara-negara Sekutu, seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Australia.

Untuk pemaparan lebih lanjut, silahkan akses PPT pada link di bawah ini :)

Pendudukan Jepang di Indonesia

Setelah memahami materi dalam PPT, silahkan kerjakan soal di bawah ini.

1. Jelaskan latar belakang kedatangan Jepang ke Indonesia!

2. Sebutkan kebijakan politik pemerintah Jepang pada masa awal kependudukan dan pada masa akhir kependudukan?

3. Kebijakan Jepang di bidang ekonomi salah satunya adalah Romusha, apa yang dimaksud dengan Romusha?

4. Sebutkan dan jelaskan secara singkat kebijakan pemerintah Jepang di bidang Militer!

5. Mengapa jepang menyebut negara mereka sebagai "saudara tua" bangsa Indonesia?




Apabila ada materi yang belum dipahami, silahkan drop pertanyaan di kolom komentar ;)

Semangat belajar dan menuntut ilmu <3

Kamis, 22 Februari 2024

PEMBENTUKAN PEMERINTAHAN INDONESIA

 DEWI CAHYANTI, S.Pd

SEJARAH INDONESIA
KELAS XI IPA 4, XI IPA 5
22, 23 FEBRUARI 2024
20,21 MARET 2024

KOMPETENSI DASAR
3.8 Menganalisis peristiwa pembentukan pemerintahan pertama Republik Indonesia dan maknanya bagi kehidupan kebangsaan Indonesia masa kini.
4.8. Menalar peristiwa pembentukan pemerintahan Republik Indonesia padaawal kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan kebangsaan Indonesia masa kinidan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah

TUJUAN PEMBELAJARAN 
Melalui pendekatan Saintifik dengan pembelajaran Discovery Learning peserta didik dapat berfikir kritis dan kreatif dalam menganalisis pristiwa pembentukan pemerintahan pertama Republik Indonesia dan maknanya bagi kehidupan kebangsaan Indonesia masa kini.

Pembentukan Pemerintahan Indonesia


Pembentukan pemerintahan Indonesia dirumuskan lewat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). PPKI dibentuk atas inisiatif tokoh bangsa Indonesia yang bertujuan mempersiapkan pelaksanaan kemerdekaan dan kebutuhan-kebutuhan Indonesia setelah merdeka.
Sidang pertama PPKI dilaksanakan pada 18 Agustus 1945 bertempat di Gedung Tyuuoo Sangi-In (Gedung Pancasila), yang hasilnya berupa :
1. Pengesahan UUD 1945
2. Memilih Presiden dan Wakil Presiden
3. Membentuk Komite Nasional

Silahkan akses PPT di bawah ini, dibaca dan dipahami!

Setelah membaca dan memahami materi yang ada di PPT, silahkan kerjakan soal di bawah ini 
1. Apa saja hasil sidang PPKI tanggal 18 dan 19 Agustus 1945?
2.Jelaskan apa yang dimaksud dengan sistem pemerintahan Parlementer dan sistem pemerintahan Presidensial!
3. Apa perbedaan dari BKR dan TKR?
4. Jelaskan isi dari Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945!


Apabila ada materi yang belum dipahami silahkan ajukan pertanyaan di kolom komentar ;)



selamat belajar dan menuntut ilmu anak-anak semuanya<3

Selasa, 20 Februari 2024

PERKEMBANGAN PERGERAKAN NASIONAL DAN SUMPAH PEMUDA

 DEWI CAHYANTI, S.Pd

SEJARAH PEMINATAN
KELAS XI IPS 1, XI IPS 2
20, 23 FEBRUARI 2024

KOMPETENSI DASAR
3.10 Menganalisis persamaan dan perbedaan tentang strategi pergerakan nasional. 
4.10 Mengolah informasi tentang persamaan dan perbedaan strategi pergerakan nasional dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah. 

TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui pembelajaran secara mandiri dan kelompok peserta didik dapat Mengidentifikasi Perkembangan Organisasi Pergerakan Nasional dan dapat Menghargai nilai-nilai Sumpah Pemuda dan maknanya bagi kehidupan kebangsaan di Indonesia pada masa kini. Peserta didik Menyajikan langkah-langkah dalam penerapan nilai-nilai sumpah pemuda dan maknanya bagi kehidupan kebangsaan.

A. Perkembangan Organisasi Pergerakan Nasional

1. Budi Utomo (1908)
2. Indische Partij (1912) 
3. Sarekat Islam (1912) 
4. Partai Komunis Indonesia (1920) 
5. Taman Siswa (1922)
6. Partai Nasional Indonesia (1927)
7. Pergerakan Kaum Wanita
a. Putri Mardiko (1912)
b. Kartini Fonds (1912)
c. Keutamaan Istri (1913)
d. Kerajinan Aman Setia (1914)
e. Serikat Kaum Ibu Sumatera
f. Perkumpulan Ina Tani
8. Gerakan Pemuda
a. Tri Koro Darmo (1915)
b. Jong Sumatranen Bond (1917) 
c. Jong Islamiten Bond (1925)
9. Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (1926)
10. Pemuda Indonesia (1927)
11. Perhimpunan Indonesia (1908)

B. Pelaksanaan Sumpah Pemuda



Kongres Pemuda I dilaksanakan pada tanggal 30 April hingga 2 Mei tahun 1926. Kongres ini juga disebut sebagai Het Eerste Indonesisch Jeugd Congres atau Kerapatan Besar Pada Pemuda Indonesia. Kongres ini didorong oleh pemuda dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).
Para pemuda yang dipimpin oleh PPPI (Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia) mengadakan beberapa rapat yang dihadiri oleh perwakilan dari beberapa organisasi pemuda. Dari rapat tersebut menghasilkan keputusan bahwa Kongres Pemuda II akan dilaksanakan pada Oktober 1928 dengan susunan panitia sebagai berikut: 
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI) 
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java) 
Sekretaris : Muhammad Yamin (Jong Sumatranen Bond) 
Bendahara : Amir Sjarifoeddin (Jong Bataks Bond) 
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond) 
Pembantu II : R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : R.C.L. Senduk (Jong Celebes) 
Pembantu IV : Johannes Leimena (Jong Ambon) 
Pembantu V : Mohamad Rocjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi) 
Kongres Pemuda II dilangsungkan selama dua hari pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 yang terbagi dalam tiga kali rapat yang masing-masing rapat dilaksanakan di gedung yang berbeda.

Sabtu 27 Oktober 1928
Dilaksanakan rapat pertama  di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB). Dalam rapat ini Mohammad Yamin menguraikan tentang arti penting persatuan untuk kebangsaan. Menurutnya terdapat beberapa faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu persamaan kultur, bahasa, dan hukum adat. 
Minggu, 28 Oktober 1928
Rapat kedua terjadi pada  di Gedung Oost-Java Bioscoop membahas masalah pendidikan. Anak-anak harus dididik untuk memiliki karakter yang baik dan cinta tanah air. Anak-anak juga harus diberikan pelajaran merdeka tanpa melalui perintah ataupun pemaksaan. Harus ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. 
Rapat ketiga dilaksanakan di gedung Indonesische Clubgebouw Kramat. Pada rapat ketiga dijelaskan pentingnya gerakan kepanduan bagi persatuan bangsa. Kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Dalam rapat ketiga ini, sebelum rumusan hasil kongres dibacakan, terlebih dahulu diperdengarkan lagu ciptaan Wage Rudolf Supratman, yakni Indonesia Raya yang nantinya akan menjadi lagu kebangsaan Indonesia. putusan kongres dibacakan dan diikuti oleh seluruh peserta, sebuah putusan yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Adapun ikrar Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut: 
1. Kami, putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia 
2. Kami, putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia 
3. Kami, putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

silahkan akses PPT di bawah ini

LATIHAN
1. Apa yang melatar belakangi terjadinya Sumpah Pemuda?
2. Tuliskan tiga hikmah yang dapat ditarik dari peristiwa Sumpah Pemuda!
3. Jelaskan tujuan didirikannya organisasi Budi Utomo!
4. Uraikan mengapa Sarekat Islam terbagi ke dalam dua faham yang berbeda?
5. Keutamaan Isteri adalah salah satu organisasi Pergerakan Kaum Wanita, jelaskan perkembangannya!

Selasa, 13 Februari 2024

PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS 1945 (WAJIB)

DEWI CAHYANTI, S.Pd

SEJARAH INDONESIA
KELAS XI MIPA 4, XI MIPA 5
04, 05 FEBRUARI 2024

KOMPETENSI DASAR
3.7 Menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia.
4.7 Menalar peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:

1. Menganalisis peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945.

2. Mengevaluasi berbagai bentuk sambutan masyarakat terhadap proklamasi.

3. Merumuskan nilai-nilai kejuangan yang terkandung dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia.

4. Menalar peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia

5. Menyajikan hasil penalaran dalam bentuk cerita sejarah

A. Peristiwa Penting Sekitar Proklamasi

1. Peristiwa Rengasdengklok


Peristiwa Rengasdengklok diawali dari penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta (golongan tua) serta Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra yang saat itu berusia 9 bulan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda. Beberapa pemuda yang terlibat dalam penculikan ini antara lain Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh (golongan muda). Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Rumah Jiauw Ki Siong seorang Tionghoa menjadi tempat bagi para pemuda untuk meyakinkan gologan tua agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dikumandangkan, dengan ini bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah pemberian Jepang. Ahmad Soebardjo (golongan tua) dan Wikana (golongan muda) yang berada di Jakarta telah sepakat bahwa Proklamasi akan segera dilaksanakan di Jakarta. Selain itu, Laksamana Muda Meda bersedia rumahnya dijadikan tempat perumusan teks Proklamasi. Ahmad Soebardjo, Sudiro, dan Jusuf Kunto berangkat ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur.


2. Perumusan Teks Proklamasi



Perumusan teks proklamasi dilakukan di kediaman Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta. Perumusan teks tersebut juga disaksikan oleh Miyoshi, Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah. Dalam teks tersebut memuat kalimat pernyataan yang tegas dan mencerminkan harapan bangsa Indonesia, untuk menjadi negara merdeka dan bebas menentukan nasibnya sendiri. Dalam penyusunannya, isi teks proklamasi pada kalimat pertama “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia” adalah usulan Ahmad Soebardjo, yang sebelumnya berbunyi “Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami”. Selanjutnya, pada isi teks proklamasi di kalimat kedua juga mengalami perubahan. Awalnya kalimat kedua berbunyi “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara secermat-cermatnya, serta dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”. Kalimat "secermat-cermatnya serta dalam tempoh" diubah menjadi "seksama dan dalam tempoh", atas usulan Moh. Hatta. Pada prosesi penandatanganan naskah Soekarno mengusulkan agar seluruh peserta rapat menandatangani naskah Proklamasi selaku wakil bangsa Indonesia. Usulan tersebut ditentang golongan pemuda, Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani naskah tersebut adalah Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, usulan Sukarni disetujui oleh para hadirin. Setelah melalui proses penyusunan oleh para tokoh, akhirnya teks tersebut diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik setelah Soekarno melakukan beberapa perubahan yaitu kata “tempoh” menjadi “tempo”, tulisan “wakil-wakil bangsa Indonesia” diubah menjadi “atas nama bangsa Indonesia”, tulisan “Djakarta 17-8-05” diubah menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahun ‘05”.

3 Proklamasi Kemerdekaan RI

 

Pada mulanya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia akan dibacakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di  Lapangan IKADA (yang sekarang telah menjadi Lapangan Monas) namun Rumah Bung Karno akhirnya dipilih untuk menghindari kericuhan antara penduduk dan tentara Jepang, yang berlokasi di Jl. Pegangsaan Timur No. 56. 


Pada hari Jumat pagi tanggal 17 Agustus 1945, halaman rumah Ir. Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta sudah dipenuhi rakyat dan para tokoh yang ingin menyaksikan upacara pembacaan nas- kah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para pemimpin bangsa Indone- sia yang sudah hadir adalah dr. Buntaran Martoatmojo, Mr. A. A. Maramis, Mr. Latuharhary, Abikusno Cokrosuyoso, Anwar Cokroaminoto, Harsono Cokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantara, Sam Ratulangi, K. H. Mas Mansur, Sayuti Melik, dr. Muwardi, Suwirjo, dan A. G. Pringgodigdo. Pada pukul 09.55 WIB Drs. Moh. Hatta datang dan akhirnya tepat pada pukul 10.00 WIB acara pembacaan naskah prokla- masi dimulai. Selanjutnya, Ir. Sukarno tampil ke depan mikrofon mem- bacakan naskah proklamasi pada pukul 10.00 WIB.


Sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan, pukul 10.00 WIB Ir. Sukarno menyampaikan pidatonya, yang berbunyi:


Saudara-saudara sekalian!

Saya sudah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menjaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita.

Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk ke- merdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombang- nya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naik dan ada turun, tetapi jiwa kita tetap menudju ke arah cita-cita.

Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak henti-henti. Di dalam zaman Jepang ini, tampaknja saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakikatnja, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan kita sendiri

Sekarang tibalah saatnja kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanja bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami, tadi malam telah mengadakan musjawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh rakyat Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami nyatakan kebulatan tekad itu. Dengarlah proklamasi kami.


PROKLAMASI


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.


Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.LL, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.


Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05 

Atas nama bangsa Indonesia,

Soekarno/Hatta


Demikianlah, saudara-saudara!

Kita sekarang telah merdeka!

Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita bangsa kita!

Mulai saat ini kita menjusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia, merdeka, kekal abadi.

Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!



B. Sambutan Rakyat Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


1. Penyebaran Berita Proklamasi



Pada 17 Agustus 1945 teks proklamasi telah diterima oleh Kepala Bagian Radio Domei (kantor berita Jepang). Waidan B. Panelewa memerintahkan F. Wuz untuk menyiarkan berita prorklamasi tiga kali berturut-turut, namun setalah dua kali disiarkan, seorang Jepang masuk ke ruang radio dan memerintahkan agar berita proklamasi dihentikan. Waidan B. Panelewa tetap memerintahkan F. Wuz agar berita proklamasi terus disiarkan setiap setengah jam sekali sampai pukul 16.00 WIB. Pada 20 Agustus Pemancar Radio Domei disegel oleh Jepang. Para pemuda membuat pemancar baru dengan bantuan beberapa teknisi radio, alat pemancar yang diambil dari kantor berita Domei sebagian dibawa kerumah Waidan B. Panelewa dan sebagian dibawa ke Jalan Menteng 31. Di Jalan Menteng 31 para pemuda merakit pemancar baru dengan kode DIK I un- tuk menyiarkan berita proklamasi ke seluruh Indonesia. Usaha para pemuda untuk menyebarluaskan berita proklamasi tidak terbatas lewat radio, melainkan juga dalam surat kabar se- hingga hampir seluruh surat kabar di Jawa dalam penerbitan- nya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya adalah koran pertama yang menyiarkan berita proklamasi.

2. Dukungan Rakyat terhadap Proklamasi Kemerdekaan di Lapangan Ikada


Rapat raksasa Ikada diselenggarakan pada tanggal 19 September 1945 dan dipelopori oleh Komite Van Actie (Komite Aksi Menteng 31). Komite inilah yang melakukan pengerahan massa ke Lapangan Ikada dengan tujuan sebagai berikut.

a. Agar para pemimpin RI dapat berbicara di hadapan rakyat.
b. Agar semangat kemerdekaan tetap menyala di hati rakyat.
c. Ingin menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya dengan tenaga sendiri, bukan atas bantuan Jepang.

Sebelumnya, pimpinan militer Jepang telah melarang rapat tersebut. Untuk menghalang-halangi rapat, pasukan Jepang yang bersenjata lengkap berjaga-jaga di sekitar Lapangan Ikada. Namun, kehadiran pasukan Jepang tidak mencegah rakyat untuk menghadiri rapat. Sekitar pukul 15.00 WIB, Sukarno memasuki lapangan didampingi sepasukan BKR dan para pemuka bangsa Indonesia dan berpidato.

Dalam pidato tersebut ia menegaskan bahwa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya dan bertekad mempertahankan kemerdekaan itu. Lalu, ia menutup pidatonya dengan ajakan kepada rakyat untuk setia kepada pemerintah dan pulang dengan tenang, namun tetap waspada. Akibat sikap antipati yang ditunjukkan Jepang di lapangan Ikada, berapa hari pemilihan para pejuang BKR dan pemuda menyerbu gudang senjata Jepang di Cilandak, Jakarta.

3. Tindakan Heroik di Berbagai Daerah


Tindakan heroik (kepahlawanan) tersebut terjadi serentak di berbagai daerah, antara lain di Semarang, Yogyakarta, Solo, Bandung, Surabaya. Aceh, Palembang, dan Makassar.

a. Makassar
Pada tanggal 19 Agustus 1945, rombongan Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangi, mendarat di Sapiria, Bulukumba. Setelah sampai di Makassar, Gubernur Dr. Sam Ratulangi segera membentuk pemerintah- an daerah. Mr. Andi Zainal Abidin diangkat sebagai Sekretaris Daerah. Tindakan gubernur oleh para pemuda dianggap terlalu berhati-hati, se- hingga para pemuda bergerak dan merencanakan merebut gedung-ge- dung vital, seperti studio radio dan markas polisi. Kelompok pemuda tersebut terdiri dari kelompok Barisan Berani Mati (Boci Taishin), bekas kaigun heibe dan pelajar SMP. Pada tanggal 28 Oktober 1945 mereka melakukan aksinya. Akibat peristiwa tersebut, pasukan Australia yang te lah ada melucuti mereka. Sejak peristiwa tersebut gerakan pemuda dipindahkan dari Makassar ke Polombangkeng

b. Bali
Para pemuda Bali telah membentuk berbagai organisasi pemuda, se- perti AMI, Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada akhir Agustus 1945. Mereka berusaha untuk menegakkan Republik Indonesia melalui perundingan tetapi mendapat hambatan dari pasukan Jepang. Pada tanggal 13 Desember 1945 mereka melakukan gerakan serentak untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang, meskipun gerakan ini gagal.

c. Surabaya
Kedatangan NICA dan dipersenjatainya KNIL telah menimbulkan bentrokan bersenjata dan permusuhan antara orang Belanda dan parı pemuda pejuang. Misalnya, pada tanggal 19 September 1945 terjadi In siden Bendera di Surabaya. Peristiwa ini bermula dari sikap orang-orang Belanda yang mengibarkan bendera Merah Putih Biru (bendera Belanda) di atas Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya.

Peristiwa itu menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya. Selanjutnya rakyat Surabaya menyerbu Hotel Yamato. Beberapa pemuda Indonesia dengan gagah berani naik di atas hotel untuk menyobek warna biru pada bendera Belanda sehingga tinggal warna merah dan putih. Dengan de mikian, bendera ini menjadi warna bendera Indonesia. Hal itu berani rakyat tidak suka terhadap sikap tentara Sekutu dan NICA di Indonesia

d. Yogyakarta
Perebutan kekuasaan dari tangan Jepang di Yogyakarta sudah dimu lai sejak tanggal 26 September 1945. Sejak pukul 10.00 semua pegawai instansi pemerintah dan perusahaan yang dikuasai Jepang melaksanakan aksi mogok. Mereka memaksa agar orang-orang Jepang menyerahkan aset dan kantornya kepada orang Indonesia.

Tanggal 27 September 1945 Komite Nasional Indonesia Daerah Yog yakarta mengumumkan bahwa kekuasaan di daerah tersebut telah berada di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada hari itu juga di Yogya karta diterbitkan surat kabar Kedaulatan Rakyat. Pada tanggal 7 Oktober 1945 para pemuda, BKR, dan polisi istimewa menyerang tangsi Jepang. Dalam pertempuran tersebut gugur beberapa pemuda, seperti Faridan M. Noto. A.M. Sangaji, Abu Bakar Ali, dan Suroto.

e. Solo
Para pemuda melakukan pengepungan markas Kempetai Jepang Dalam pengepungan itu, seorang pemuda bernama Arifin gugur. Nama Arifin kemudian diabadikan menjadi nama sebuah jembatan yang meng- hubungkan Widuran dan Kebalen di atas Sungai Pepe.

f. Palembang
Dukungan dan perebutan kekuasaan terjadi di Sumatra Selatan pada tanggal 8 Oktober 1945, ketika Residen Sumatra Selatan dr. A.K. Gani bersama seluruh pegawai Gunseibu dalam suatu upacara menaikkan ben- dera Merah Putih. Setelah upacara selesai, para pegawai kembali ke kantornya masing-masing. Pada hari itu juga diumumkan bahwa di seluruh Karesidenan Palembang hanya ada satu kekuasaan yakni kekuasaan Republik Indonesia. Perebutan kekuasaan di Palembang berlangsung tanpa insiden, sebab orang-orang Jepang telah menghindar ketika terjadi demonstrasi.

g. Bandung
Pertempuran diawali dengan usaha para pemuda untuk merebut pangkalan Udara Andir dan pabrik senjata bekas ACW (Artillerie Constructie Winkel, sekarang Pindad). Usaha tersebut berlangsung sampai datangnya pasukan Sekutu di Bandung tanggal 17 Oktober 1945,

h. Kalimantan
Beberapa kota di Kalimantan mulai timbul gerakan yang mendukung proklamasi. Akibatnya tentara Australia yang sudah mendarat atas nama Sekutu mengeluarkan ultimatum melarang sernua aktivitas politik, seperti demonstrasi dan mengibarkan bendera Merah Putih, memakai lencana Merah Putih dan mengadakan rapat. Namun kaum nasionalis tidak menghiraukannya. Di Balikpapan tanggal 14 November 1945, tidak kurang 8.000 orang berkumpul di depan komplek ICA sambil membawa bendera Merah Putih.

i. Manado
Usaha menegakkan kedaulatan di Sulawesi Utara tidak padam. meskipun tentara NICA telah menguasai wilayah tersebut. Pada tanggal 14 Februari 1946, para pemuda Indonesia anggota KNIL tergabung da lam Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) mengadakan gerakan di Tangsi P tih dan Tangsi Hitam di Teling, Manado. Mereka membebaskan tawanan yang mendukung Republik Indonesia antara lain Taulu, Wuisan, Suman ti, G.A. Maengkom, Kusno Dhanupojo, dan G.E. Duhan.

Di sisi lain mereka juga menahan Komandan Garnisun Manado das semua pasukan Belanda di Teling dan penjara Manado. Dengan diawali peristiwa tersebut para pemuda menguasai markas Belanda di Tomohon dan Tondano. Berita tentang perebutan kekuasaan tersebut dikirim ke pe merintah pusat yang saat itu di Yogyakarta dan mengeluarkan Maklumat No. I yang ditandatangani oleh Ch.Ch. Taulu. Pemerintah sipil dibennuk tanggal 16 Februari 1946 dan sebagai residen dipilih B.W. Lapian.

Latihan Soal 

1. Apa yang melatarbelakangi peristiwa Rengasdengklok?
2. Mengapa proklamasi kemerdekaan memiliki makna yang sangat penting bagi bangsa Indonesia?
3. Apa yang melatarbelakangi dipilhnya rumah Soekarno sebagai tempat pembacaan teks Proklamasi?
4. Jelaskan perjuangan Waidan B. Panelewa dalam menyairkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia!
5. Jelaskan tujuan dilaksanakannya rapat di lapangan IKada pada tanggal 19 September 1945!
 

Senin, 12 Februari 2024

PERKEMBANGAN PENGARUH BARAT PADA MASA KOLONIAL

DEWI CAHYANTI, S.Pd
SEJARAH PEMINATAN
KELAS XI IPS 1, XI IPS 2
04, 07 FEBRUARI 2024

TUJUAN PEMBELAJARAN 
Setelah proses mengamati berbagai fakta, menanya konsep, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan, peserta didik dapat menjelaskan, ,merangkum dan membuat laporan tentang penjajahan bangsa Eropa di Indonesia (proses masuk dan berkembangnya, perlawanan bangsa Indonesia, dampaknya bagi bangsa Indonesia) dengan baik, serta menunjukkan perilaku bertanggung jawab, peduli, cinta damai, responsif, pro-aktif, jujur, bertanggung jawab, disiplin, percaya diri, mampu bekerja sama, damai, dan santun selama proses pembelajaran.

KOMPETENSI DASAR
3.7 Respon bangsa indonesia terhadap imperialisme dan kolonialisme dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pendidikan 
4.7 Menalar dampak mperialisme dan kolonialisme dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pendidikan kehidupan bangsa Indonesia masa kini dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah 

A. Penjelajahan Samudra oleh Bangsa Eropa



Sesudah Perang Salib selesai, muncullah kekuasaan baru di Asia Barat, yaitu kekuasaan Kerajaan Turki Usmani. Selanjutnya, bangsa Turki mempersulit kedatangan para pedagang Eropa di daerah kekuasaan- nya sehingga perdagangan antara Eropa dan Asia mengalami kemundu ran. Oleh karena itu, wilayah di sekitar Laut Tengah yang sebelumnya ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai negara menjadi sepi.

Kebijakan Kerajaan Turki tersebut juga menyebabkan keguncangan perekonomian di wilayah sekitar Laut Tengah. Kemunduran perdagang- an di Laut Tengah dan terputusnya hubungan dagang antara Asia dan Eropa menimbulkan kesulitan bagi bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah sehingga rempah-rempah dari Indonesia menjadi barang langka dan harganya sangat mahal. Selanjutnya, kelangkaan rempah- rempah tersebut mendorong bangsa Eropa yang berusaha menemukan jalur pelayaran langsung ke Asia untuk mencari rempah-rempah melalui penjelajahan samudra. Faktor lain yang mendorong penjelajahan samu dra, antara lain sebagai berikut.

1. Bangsa Eropa berkeinginan untuk mendapat kan rempah-rempah dengan harga lebih murah.

2. Adanya kemajuan di bidang ilmu penge tahuan dan teknologi seperti penemuan kompas yang dapat memperlancar kegiatan penjelajahan samudra.

3. Adanya keinginan untuk menyebarkan aga ma Kristen ke luar Benua Eropa.

4. Adanya keinginan untuk membuktikan pendapat bahwa bentuk bumi adalah bulat seperti yang dikemukakan oleh Copernicus (1473-1543).

5. Semangat mencari daerah baru juga dido rong oleh semangat 3G. Yang dimaksudkan dengan 3G adalah gold (ekonomi), gospel (agama), dan glory (kemuliaan).

B. Munculnya Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia

Kolonialisme menekankan penguasaan fisik atas suatu wilayah, sedangkan imperialisme lebih menekankan pengaruh ekonomi dan politik.

1. Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia



Pada awal penjelajahan samudra, bangsa Portugis berhasil mencapai India pada tahun 1498 dan pada tahun 1511 Portugis berhasil mengua- sai Malaka. Selanjutnya, Portugis mengadakan hubungan dagang dengan Maluku yang merupakan daerah sumber utama penghasil rempah-rem- pah di Indonesia. Pada tahun 1512 Alfonso de Albuquerque mengirim- kan beberapa buah kapal ke Maluku. Pada awalnya masyarakat Maluku menyambut baik kedatangan Portugis dengan tujuan agar Portugis dapat membeli rempah-rempah dan membantu masyarakat Maluku mengha- dapi musuh-musuhnya.

Pada saat kedatangan bangsa Portugis, Kesultanan Ternate di Maluku diperintah oleh Kaicil Darus. Selanjutnya, Sultan Ternate meminta bantu- an pada Portugis untuk mendirikan benteng di Ternate untuk menghadapi serangan dari daerah lain terhadap Ternate. Pada tahun 1522, Portugis mengabulkan permintaan Sultan Ternate dengan mendirikan Benteng Saint John di Ternate. Pendirian benteng tersebut harus dibayar mahal oleh Ternate karena Portugis menuntut imbalan berupa hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Ternate dan memaksa Sultan Ternate un- tuk menandatangani perjanjian monopoli perdagangan dengan Portugis.

Perjanjian monopoli perdagangan rempah-rempah tersebut ternyata menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat Maluku karena rakyat Maluku dilarang menjual rempah-rempahnya secara bebas. Selain itu, Portugis telah menetapkan harga rempah-rempah yang dijual rakyat dengan harga yang murah. Kebijakan tersebut merugikan rakyat Ternate sehingga me- micu terjadinya permusuhan antara rakyat Ternate dan Portugis. Selain mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, bang- sa Portugis juga aktif menyebarkan agama Katolik yang dilakukan oleh Fransiscus Xaverius.

2. Kedatangan Bangsa Spanyol ke Indonesia



Bangsa Spanyol yang tergabung dalam kapal Ekspedisi Magelhaens Del Cano tiba pertama kali di Tidore pada tahun 1521. Pada awalnya, kedatangan bangsa Spanyol disambut baik rakyat Maluku yang sedang bersengketa dengan Portugis. Kedatangan Spanyol di Maluku merupa kan keberhasilan bangsa Spanyol dalam mencari daerah sumber pengh rempah-rempah. Selanjutnya, orang-orang Spanyol semakin bertamba banyak yang berdagang di Maluku.

Bagi Portugis, kehadiran Spanyol tersebut merupakan pelanggaran atas hak monopoli perdagangan rempah-rempahnya di Maluku sehingga timbul persaingan antara bangsa Portugis dan Spanyol dalam perda gangan rempah-rempah di Maluku. Dalam konflik antara Portugis daa Spanyol tersebut Sultan Ternate bersekutu dengan Portugis, sedangkan Sultan Tidore bersekutu dengan Spanyol.

Untuk menyelesaikan sengketa di Maluku tersebut Portugis dan Spanyol menempuh jalur perundingan yang dilaksanakan di Saragua (Spanyol) pada tahun 1529. Perundingan dua bangsa tersebut menghasil kan kesepakatan yang disebut Perjanjian Saragosa. Isi Perjanjian Saragosa, antara lain

a. Spanyol harus meninggalkan Maluku dan melakukan perdagangan di Filipina:

b. Portugis tetap melakukan kegiatan perdagangan di Kepulauan Ma luku.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Spanyol segera meninggalkan Malu- ku. Selanjutnya, bangsa Portugis berusaha keras menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku dengan melakukan praktik monopoli

3. Kedatangan Bangsa Belanda ke Indonesia



Sebelum datang ke Indonesia untuk membeli rempah-rempah, pe dagang Belanda membeli rempah-rempah dari Indonesia di Lisabon, ibu kota Portugis karena Belanda merupakan jajahan bangsa Spanyol. Pada tahun 1585 Belanda tidak lagi membeli rempah-rempah dari Lisabon karena Portugis dikuasai oleh bangsa Spanyol.

Putusnya jalur perdagangan rempah-rempah antara Belanda dan Lisebon tersebut mengakibatkan Belanda banyak menderita kerugian. Oleh karena itu, bangsa Belanda mulai mengadakan penjelajahan samudra un tuk mencari daerah penghasil rempah-rempah, yaitu Indonesia. Pada bu lan April 1595 Belanda memulai pelayarannya menuju Nusantara dengan memakai empat buah kapal di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan De Keyzer dengan menempuh rute Belanda-Pantai Barat Afrika-Tanjung Harapan-Samudra Hindia-Selat Sunda-Banten.

Pelayaran bangsa Belanda ke Indonesia tersebut dilakukan dengan menghindari jalur pelayaran armada Portugis. Pada bulan Juni 1596 Belanda berhasil mendarat di Banten. Pada awal kedatangannya, Belanda mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Banten dan mendapatkan izin untuk berdagang di Banten. Akan tetapi, Belanda melakukan in- timidasi kepada rakyat Banten sehingga rakyat Banten berbalik memusuhi dan mengusir 120 orang Belanda dari Banten. Selanjutnya, arma- da Belanda yang belum mendapat barang da- gangan harus mundur dari Banten menuju ke Kepulauan Maluku.

Pada tanggal 2 Oktober 1596 Belanda kembali lagi ke Banten untuk mengadakan perjanjian persahabatan. Orang-orang Belanda yang ditahan pada saat pertama kali datang di Banten berhasil dibebaskan setelah Belanda membayar tebusan. Namun, suasana damai tersebut tidak berlangsung lama karena sejak tanggal 28 Okto- ber 1596 terjadi ketegangan antara Belanda dan Portugis yang saling berebut pengaruh terhadap Sultan Banten. Dalam konflik tersebut, Portugis Cara de Houmman di Banten berhasil mengusir Belanda dari Banten. Pada tanggal 28 November 1598, rombongan kapal dari Negeri Belanda di bawah pimpinan van Neck dan van Waerwyck dengan delapan buah kapal tiba di Banten.

3. Perluasan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia

1. Sejarah Kelahiran VOC di Indonesia



Keberhasilan ekspedisi van Neck dalam perdagangan rempah-rem- pah ke Maluku mendorong orang-orang Belanda datang ke Indonesia Namun, akibat banyaknya bangsa Belanda yang datang ke Indonesia terjadilah persaingan di kalangan pedagang-pedagang Belanda. Di sam- ping itu, di Negeri Belanda juga banyak berdiri persekutuan dagang dan pelayaran yang saling bersaing secara ketat. Di dalam melakukan aktivitas perdagangan di Indonesia, bangsa Belanda juga harus menghadapi per- saingan dagang dengan Portugis, Spanyol, dan Inggris.

Selanjutnya, atas prakarsa pembesar Belanda yang bernama Olden Barneveldt, seluruh persekutuan dagang Belanda yang ada di Indone sia disatukan menjadi sebuah persekutuan dagang di Hindia Timur yang disebut Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). VOC berdiri secara resmi pada tahun 1602 dan membuka kantor pertama di Banten (1602) yang dikepalai oleh Francois Wittert. Tujuan dibentuknya VOC, antara lain sebagai berikut.

A.  Menghindari persaingan yang tidak sehat antara pedagang Belanda sehingga keuntungan dapat diperoleh secara maksimal.
 B.  Memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan dengan bangsa Eropa dan bangsa Asia lainnya.
 C.  Membantu pemerintah Belanda yang sedang berjuang melawan Spanyol yang ingin menguasai wilayah Belanda.

 Pada awal kelahirannya, VOC belum mempunyai modal, armada kapal, personel, dan senjata yang cukup.  Namun, VOC memiliki kelebihan berupa sistem organisasi yang teratur dan rapi.  Kelebihan tersebut sangat menentukan keberhasilan kebijakan perdagangan VOC di Indonesia sehingga VOC mampu mengelola perdagangan di Indonesia.

Kepemimpinan VOC dipegang oleh dewan beranggotakan 17 orang yang berkedudukan di Amsterdam (Heeren XVII).  Oleh pemerintah Belanda, VOC diberi oktroi (hak-hak istimewa) sebagai berikut.

 A.  Dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia.
 B.  Berhak melakukan monopoli perdagangan.
 C. Berhak mencetak dan mengedarkan uang sendiri.
 D.  Berhak mengadakan perjanjian.
 C.  Berhak memaklumkan perang dengan negara lain.
 F.  Berhak menjalankan kekuasaan kehakiman.
 G.  Berhak melakukan pemungutan pajak.
 H.  Berhak memiliki angkatan perang sendiri.
  I.  Berhak mengadakan pemerintahan sendiri.

2. Kebijakan Perdagangan dan Politik VOC

Kebijakan perdagangan VOC adalah sebagai berikut :
A. VOC menentukan luas areal penanaman rempah-rempah
B. VOC menentukan jumlah tanaman rempah-rempah
C. VOC melarang rakyat Maluku menjual rempah-rempahnya kepada bangsa Eropa lain
D. VOC mengadakan ekstirpasi yaitu penebangan tanaman yang melebihi produksi
E.Penyerahan upeti di wajibkan setiap tahunnya dari kerajaan yang tunduk kepada VOC atau kerajaan yang telah mengikat perjanjian dengan VOC.
F. Rakyat diwajibkan menanam tanaman tertentu dan menjualnya kembali dengan harga tertentu kepada VOC saat panen. Misalnya penanaman kopi di daerah Priangan dan penanaman tebu di daerah Banten serta Mataram.

Pada kebijakan politiknya VOC melakukan cara-cara politik devide at impera atau politik adu domba dan tipu muslihat.

3. Runtuhnya VOC

Pada pertengahan abad ke-18 VOC mengalami kemunduran karena beberapa sebab sehingga dibubarkan. Penyebab kemunduran VOC, an tara lain sebagai berikut.
a. Banyak pegawai VOC yang curang dan melakukan korupsi. 
b. Banyak pengeluaran VOC untuk biaya peperangan, seperti perang melawan Hasanuddin dari Gowa.
c. Banyaknya gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas mettr butuhkan pegawai yang banyak.
d. Pembayaran deviden (keuntungan) bagi pemegang saham turut mem beratkan setelah pemasukan VOC mengalami penurunan.
e. Bertambahnya saingan dagang di Asia.
f. Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis dan liberal yang menganjurkan perdagangan bebas. 
Berdasarkan alasan di atas VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desem ber 1799 dengan hutang 136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditingga kan berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal serta daerah kekuasu di Indonesia. Setelah VOC dibubarkan, Indonesia langsung dikendalikan oleh pemerintah Belanda. Sejak saat itu, secara politis wilayah Indonesia dikuasai oleh pemerintah Belanda. 

D. Kebijakan Pemerintah Kolonial di Indonesia pada Abad ke-19

1. Sistem Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Bawah Gubernur Jenderal Daendels



Kedatangan Daendels di Indonesia sebagai gubernur jen- deral adalah untuk mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris dan memperbaiki keadaan tanah jajahan. Kebijakan Daendels dalam usaha mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, antara lain :
a. membuat jalan raya dari Anyer sampai Panarukan;
b. mendirikan benteng-benteng pertahanan;
c. membangun pangkalan Angkatan Laut di Merak dan Ujung Kulon:
d. memperkuat pasukan yang beranggotakan orang Indonesia:
e. mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya.

Selain dalam bidang pertahanan dan kemiliteran, Daendels juga berusaha memperbaiki keadaan Pulau Jawa dengan cara, antara lain :
a. membagi Pulau Jawa menjadi sembilan prefektur (dae- rah):
b. mengangkat para bupati di seluruh Jawa sebagai pegawai pemerintahan Belanda:
c. memperbaiki gaji pegawai, memberantas korupsi, dan memberi hukum an yang berat bagi para pegawai yang melakukan praktik korupsi
d. mendirikan badan-badan pengadilan yang sesuai dengan adat istiadat Indonesia.

Usaha untuk memajukan dan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris membutuhkan dana yang cukup besar. Karena tidak mendapatkan bantuan dari Negeri Belanda, Daendels kemudian berusaha memperoleh biaya yang diperlukan dengan cara-cara, antara lain :
a. menerapkan aturan menyerahkan sebagian hasil bumi sebagai pajak (contingenten) dan aturan penjualan paksa hasil bumi kepada peme rintah dengan harga yang telah ditetapkan (verplichte leverantie);
b. mengadakan kerja paksa (rodi) bagi penduduk Indonesia:
c. menjual tanah-tanah luas kepada pengusaha swasta Belanda dan Tionghoa:
d. memperluas areal penanaman tanaman kopi. 
Daendels dikenal sebagai penguasa pemerintah yang sangat disiplin, keras, dan kejam. Selain itu, akibat tindakannya menjual tanah milik negara kepada pengusaha swasta asing, ia telah melanggar undang-undang.

2. Kebijakan Pemerintah Kolonial Inggris 



Pemerintahan Inggris dipimpin oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Kebijakan poli- tik pemerintahan Raffles berdasarkan asas-asas liberal yang menekankan kebebasan dan persamaan manusia. Sesuai de- ngan kebijakan politik itu, Raffles ingin menerapkan kebijakan ekonomi seperti kebijakan Inggris di India karena India dan Indonesia sama-sama berciri agraris. Kebijakan Raffles tersebut dikenal dengan nama sistem pajak tanah (Landrent- system) atau sistem sewa tanah (Landelijk Stelsel). Prinsip kebi- jaksanaan kolonial Raffles di Hindia Belanda berpatokan pada tiga asas, antara lain sebagai berikut.

a. Segala bentuk penyerahan wajib dan kerja paksa dihapuskan sehingga rakyat diberi kebebasan untuk menanam tanaman yang dianggap menguntungkan.
b. Peranan para bupati sebagai pemungut pajak dihapuskan dan mereka dijadikan bagian yang integral dari pemerintahan kolonial dengan fungsi-fungsi pemerintahan yang sesuai dengan birokrasi pemerintahan di negeri Barat.
c. para petani yang menggarap tanah dianggap sebagai penyewa (tenant) yang memiliki kewajiban untuk membayar sewa tanah (landrent) atau pajak tanah. Dasar kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia yang bersifat tradisional akan diganti dengan sistem kapitalisme.

Kebijakan ekonomi pemerintah Raffles bertujuan untuk :
a. mengurangi beban kehidupan rakyat;
b. memberikan kebebasan dan kepastian hukum kepada para petani atas tanah yang dimilikinya;
c. pemerintah memiliki pemasukan yang tetap dari sewa tanah. Kebijakan sewa tanah tersebut memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak, baik rakyat maupun pemerintah kolonial.

Sistem sewa tanah yang dicetuskan Raffles mengalami kegagalan, antara lain sebagai berikut.
a. Pemerintah kolonial mengalami kesulitan menentukan jumlah pajak bagi setiap pemilik tanah. Untuk menentukan pajak harus diadakan pengukuran tanah dan penelitian kesuburan tanah yang membutuhkan pegawai yang cukup banyak.
b. Pajak tanah harus dibayar dengan uang, sedangkan masyarakat pedesaan di Indonesia merupakan masyarakat tertutup yang belum mengenal peredaran uang.
c. Kepemilikan tanah masih bersifat tradisional, yaitu berdasarkan warisan adat sehingga pemerintah kolonial mengalami kesulitan dalam prosedur pengambilalihan tanah.

3. Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa (1830-1870)

Sejak tahun 1816 pemerintah Belanda berkuasa kembali di Indonesia. Belanda membentuk komisi jenderal untuk melakukan perbaikan di tanah jajahan. Van der Capellen memegang peranan penting dalam menjalankan pemerintahan kolonial di Indonesia. Namun pemerintahan Van der Capellen dianggap gagal oleh pemerintah Belanda. 


Pada tahun 1826 pemerintah Belanda menetapkan komisaris jenderal du Bus de Gisignies untuk memimpin pemerintah kolonial. 


Tahun 1830 Belanda mengalami kesulitan keuangan di antaranya karena :
a. pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan biaya untuk perang Diponegoro (1825-1830)
b. pemerintah di negeri Belanda banyak mengeluarkan biaya perang menghadapi pemberontakan rakyat Belgia.

Untuk mengatasi kesulitan keuangan Johanes Van den Bosch mengusulkan pada pemerintah Belanda agar produksi tanaman ekspor di Indonesia ditingkatkan dengan melaksanakan tanam paksa (Cultuurstelsel).

Setibanya di Indonesia pada tahun 1830, van Den Bosch menyusun program kerja di tanah jajahan, antara lain sebagai berikut.
a. Sistem sewa tanah dengan uang harus dihapuskan karena pelaksanaannya sangat sulit sehingga tidak banyak memberikan keuntungan.
b. Sistem tanaman bebas diganti dengan tanaman wajib yang sudah ditentukan oleh pemerintah Hindia Belanda.
c. Pajak tanah harus dibayar rakyat dengan menyerahkan sebagian hasil tanamannya kepada pemerintah Hindia Belanda.
d. Kerja wajib dihidupkan kembali untuk menunjang kelan- caran sistem penanaman wajib dan kepentingan Belanda lainnya.

Tujuan diberlakukannya Sistem Tanam Paksa adalah untuk memperoleh pendapatan sebanyak-banyaknya dari Indonesia dalam waktu relatif singkat guna menutup kekosongan kas negara dan membayar utang negara. Ciri utama Sistem Tanam Paksa adalah keharusan bagi rakyat Indonesia untuk membayar pajak mereka dalam bentuk barang berupa hasil-hasil pertanian (natura). Oleh karena itu, pemerintah kolonial mengerahkan rakyat tanah jajahan untuk mengusahakan penanaman tanaman ekspor yang hasilnya dapat dijual di pasaran dunia. Adapun jenis tanaman yang ditanam harus mengikuti ketentuan pemerintah. Misalnya, kopi dan indigo (nila).

Latihan Soal

1. Jelaskan secara singkat pengertian penerapan Sistem Tanam Paksa! 

2. Jelaskan secara singkat dampak tidak langsung pelaksanaan edukasi dalam Trias van Deventer bagi lahirnya golongan terpelajar yang akan menjadi pengerak pergerakan nasional! 

3. Jelaskan secara singkat prinsip politik kaum liberal di Hindia Belanda! 

4. Jelaskan secara singkat kondisi perekonomian Belanda yang mendorong diterapkannya Sistem Tanam Paksa! 

5. Jelaskan kontribusi pendapatan yang diperoleh pemerintah Belanda dari sistem tanam paksa terhadap upaya pembangunan di negeri Belanda!

XI IPC 1, XI IPS 1, XI IPS 2 KISI-KISI SUMATIF TENGAH SEMESTER

1 .  I dentitas Nama Guru : Dewi Cahyanti, S.Pd.  Mata Pelajaran : Sejarah Tingkat Lanjut Hari/Tanggal : Rabu, 02 April 2026 Kelas : X.F.C.1...